Jumat, 30 Januari 2015

Reasons; Alasannya apaaa?

Buku ini ditulis oleh Aditia Yudis. Kupikir judulnya akan sedikit mewakili isinya, tapi bagiku enggak. Blurb di sampul belakangpun enggak bisa dibilang menggambarkan para tokoh. ‘Reasons’  yang kuharapkan juga nggak terpenuhi sepanjang 317 halaman fiksi ini. Jadi, tokoh utama buku ini adalah Adeline. Awalnya cewek SMA jurusan IPA yang ngekos ini memiliki hidup yang biasa, terlepas dari masalah keluarganya. Kehidupannya yang biasa jadi terusik karena konfrontasi terbuka Amber –saingan Adeline dalam lomba karya tulis. Lomba itu memberikan hadiah tiket masuk UI tanpa tes yang sangat diinginkan keduanya. Adeline ingin mengejar impiannya, Amber ingin membuktikan pada orangtuanya untuk dapat pengakuan seperti kakaknya – Abimantra.

Amber yang iri pada Adeline mulai menyebar fitnah tentangnya. Mulai dari yang bohong hingga menyinggung kondisi keluarganya. Konfrontasi yang dibuat Amber akhirnya berhenti dengan Adeline yang harus menanggung ganti rugi atas insiden yang menimpa saat pertemuan mereka. Akan tetapi, setelah lulus SMA, mereka tetap bersinggungan karena masuk universitas yang sama, apalagi, ada Sigit dan Abimantra yang jadi pelengkap bahan pertikaian mereka.

Membaca kisah Adeline ini terasa begitu lambat, hampir separuh buku hanya membahas perseteruan Amber dan Adeline waktu di SMA yang juga terasa membosankan. Walaupun disebutkan detail-detail tertentu tentang tokoh, tapi saya nggak merasakan mereka ‘hidup’ kecuali Adeline yang punya sedikit ‘nyawa’. Selain Adeline dan Amber, ada Sigit dan Abimantra yang memiliki konflik-konflik sendiri, tapi mungkin karena porsi mereka sedikit dan cuma disebutin sambil lalu, jadi saya kurang bersimpati sama keduanya.   

Yang bikin kening saya berkerut, di sini interaksi mereka dangkal sekali. Tokoh-tokoh ini perlu kursus komunikasi apa ya, biar tiap ada masalah atau lagi tatap muka nggak lekas pergi begitu saja ketika ada kesalahpahaman. Tokoh-tokoh di sini hobi banget ngomong bentar terus langsung pergi waktu ada omongan yang menyinggung salah satunya. Terutama kasus Adeline sama Abimantra di halaman 260. Buat karakter Adeline yang suka baca, menurutku dia short tempered banget. Hal yang ganjil ketika Adeline marah sama Abimantra karena kesalahpahaman itu, tapi Abimantra sama sekali nggak berusaha buat ngejelasin atau ngajak bicara baik-baik setidaknya, katanya sayang? Cuma gitu aja dia menyerah. Lalu Adeline juga yang di halaman akhir tetap bilang sama Sigit bahwa dia nggak nganter Abimantra ke bandara karena dia ngerasa Abi nuduh Adeline sebagai pencuri, padahal menurutku enggak. Coba tengok dialog antara Adeline dan Abimantra ini;
“Lin pon … selmu itu, sebelumnya milik kamu?” tanya Abimantra hati-hati.
“Iya.”
“Bagaimana ini bisa berada di tanganmu?”
“Maksud kamu apa, Bi?”
“Ini sebelumnya milik Amber,” ujar Abimantra yang mencoba memancing Adeline untuk bicara kepadanya.
Adeline terenyak.           
“Kamu bilang kamu enggak kenal dengan Amber.”
“Kamu menuduhku mencuri?” Sebutan yang membuatnya benci itu muncul lagi di kepala Adeline.
Abimantra terdiam.
“Kalau begitu ambil saja lagi ponsel itu. Aku enggak membutuhnkannya. Dan aku enggak pernah mencurinya dari Amber.” Adeline menelan ludah. “Sekarang kamu boleh pergi, Bi.”

Yah, para tokoh-tokoh itu kayaknya butuh Sariwangi biar setidaknya bisa duduk 15 menit buat meluruskan kesalahpahaman. Ya tapi gimana dong, kalau nggak ada salah paham ya nggak ada konflik itu, heu…

Kasihan sama Bang Rizal yang jasanya bisa  mengantarkan Adeline kuliah, tapi sama sekali nggak ada ‘tempat’ untuknya di sini. Dia hanyalah ibu peri dadakan yang datang untuk Adeline. Ibu Adeline? Layaknya daun papaya pahit yang muncul hanya untuk lalapan ketika ingin. Banyak hal yang nggak terjawab, semisal si Amber, sudah bahagiakan dia dengan masuk komunikasi? Padahal awal dia masuk jurusan itu karena ikut-ikutan sahabatnya. Apakah Adeline setidaknya menemui titik cerah untuk membahagiakan ia dan keluarganya, terlepas bahwa ia telah bersanding sama Sigit?

Itu semua cuma keluhan dari pikiran rempong saya. Tulisan ini akan saya akhiri dengan petikan dialog Adeline dan Amber di halaman 314 yang bikin saya pengen ngakak.
“Makasih, Amber.”
“Sama-sama, Adeline,” jawab Amber, “Kili, Fili, masuk, yuk.” Amber memanggil kedua kucingnya.

Coba ucapkan dialog itu, apakah memang biasa di lidah untuk menyematkan nama setelah kata makasih dan sama-sama, dengan keadaan mereka berdua bukan orang asing dan tidak dalam hubungan yang harmonis.

Meniru Amber, “Teman-teman, baca, yuk.” :p 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

jangan segan-segan berkomentar :)