Jumat, 07 November 2014

Eclair (Sebuah Keluhan Tidak Jelas)

Éclair


Judul ini mengingatkan saya sama produk merek permen yang identik sama warna coklat muda. Setelah sekian lama sejak pertama kali melihat buku ini di rak Gramedia bertahun-tahun yang lalu, akhirnya saya berkesempatan juga baca buku ini hasil minjem teman –Makasih Ardis- J saya sebenarnya bukan tipe pembaca yang suka mereview buku yang saya baca kecuali buku itu benar-benar bagus atau benar-benar mengecewakan saya sehingga semua orang perlu tahu. Haha. Saya menulis ini buat menghargai teman saya yang telah sangat baik hati meminjami saya buku-bukunya. Nah, mulai sekarang, tiap buku yang saya pinjam dari dia, akan saya tulis impresi saya disini. Sebenarnya saya pingin langsung ngobrolin impresi saya ini face to face sama Ardis, namun semester ini kami sudah jarang sekali bertemu karena sedikitnya mata kuliah masuk kelas. Hehe. Nyuri-nyuri waktu sebelum kelas juga nggak efektif karena saya suka telat. Selesai kelas juga nggak efektif karena saya sering nggak jelas kegiatan ke sana ke mari yang sebenarnya akhirnya Cuma nongkrong di Hawe tercinta –hah, intronya banyak banget sih, jadi tujuanmu apa- oke back to topic. Tentang éclair ini yang ditulis oleh Prisca Primasari.

Pertama-tama adalah cara penuturan cerita. Saya cukup suka sama gaya penuturan penulis. Narasi, dialog, bagi saya dalam buku ini cukup seimbang sehingga tidak membosankan seperti buku sebelum ini yang saya pinjam juga dari Ardis –hehe, memang pembaca tahu buku apa yang saya pinjam-. Éclair ini, berbeda sama London –ups, kesebut juga judul buku yang saya pinjam sebelum ini- saya cuma butuh 2 hari terpotong-potong untuk menyelesaikan éclair nggak kayak London yang bikin saya berhenti tiap 5 halaman jadi lama selesainya. Setidaknya Éclair nggak sampai bikin saya mbatin pengen nglempar buku ini. Meski saya nggak bisa relate sama kisah para tokoh di Éclair ini, setidaknya penulis bikin saya penasaran sama kisah akhir mereka.

Kedua adalah tentang kisah para tokoh éclair ini sendiri. Beberapa subplotnya begitu too good to be true dan kayak tempelan saja, nggak begitu memberi andil terhadap jalan cerita, apa saya saja yang beranggapan begitu. Misalnya waktu kasus Kay –saya nggak tau sama sekali cara kerja NYPD atau polisi-polisi manapun- tapi begitu aneh bagi saya kasus Kay ini. Dia dituduh membunuh, diinterogasi dengan dialog gaje sama para polisi itu, plus tanpa dikasih pengacara. Sependek kesoktahuan saya dari film-film, tiap tersangka bukanny berhak untuk didampingi pengacara ya? Terus ya walaupun ada bukti-bukti yang mengarahkan tuduhan ke Kay, tapi ya masak nggak ada detektif yang menelusuri kasus ini dengan teliti dan penuh logika hingga sampai-sampai kasus ini dipecahkan sendiri sama Katya –tokoh utama cewek yang punya ayah seorang detektif, yang bahkan dirinya sendiri bukan detektif dan nggak jelas pekerjaannya apa kecuali adalah calon istri Sergei, sahabat Kay, Stepanich, dan Lhiver, serta selalu diincar para pembunuh yang mencari sebuah medal- (hah, capek ya bacanya, hahaha)

Intinya, penyajian kasus Kay ini kayak mi gelas yang diseduh pakai air kurang panas terus nggak ditutup dan didiemin selama minimal tiga menit hingga sama sekali nggak matang tapi karena saking laparnya langsung dimakan. Begitu mudahnya ya bikin settingan pembunuhan untuk diarahkan pada orang lain ketika pada faktanya si tersangka utama –duh lupa namanya, intinya istri pencemburu- itu nggak membuat rencana matang dalam sebelum membunuh. Jelas-jelas dia ngaku nggak bermaksud ngebunuh, tapi Cuma mau melukai tanganny si terbunuh –seorang pattisier cewek-tapi end up ngebunuh dengan pisau yang bias dia susupkan ke jas Kay. Nah, logika penyusupan pisau ini sama sekali nggak ada. Kapan dia nyusupin pisau itu ke jas Kay? Bagaimana caranya? Sama sekali tak ada logika. Lalu juga si Katya ini begitu mudah menangkap pelaku utama pembunuhan. Hah sudahlah, intinya kasus Kay ini saya nggak tahu kedudukannya buat apa, biar kisah ini dibumbui thriller detektif gitu kali ya? Atau biar menunjukkan si Katya adalah cewek cerdas keturunan detektif yang selalu berhasil, biar cocok sama imagenya ‘cewek optimistis yang harus terlaksana semua keinginannya- Hehe.

Lanjut lagi ke keluhan lain, subplot yang menyebabkan muncul konflik utama, pecahnya persahabatan mereka hingga nanti akhirnya mereka kumpul lagi walaupun nggak lengkap. Jadi si Katya ini dikejar-kejar sama pembunuh/teroris/psikopat/ atau apapun itu yang berniat membunuh dia dan orang-orang terdekatnya karena si Katya ini memegang petunjuk rahasia keberadaan medal seorang bangsawan –saya nggak mau repot-repot mengingat atau membuka bukunya lagi- nah masalahnya adalah –semoga saya nggak salah tangkep- waktu percobaan pembunuhan Katya yang kesekian kali ketika ia dan Sergei akhirnya menemukan medal itu, mereka menyerahkan ke pemerintah dan Sergei meminta pemerintah menjamin keselamatan Katya. Kejadian ini terjadi sebelum peristiwa peledakan rumah Lhiver yang menewaskan kedua orang tua dan anak angkatnya. Bagaimana bisa ketika medal telah diserahkan pada pemerintah, Katya masih diburu sama sekte murid Putin itu? Dan bahkan mereka tahu akan kedatangan Stepanich ke rumah Kay dan Lhiver yang sama sekali nggak jelas logikanya. Kenapa dari awal Katya nggak lapor sama pemerintah aja? Faktor apa yang menahannya melakukan hal tersebut dan hidup dengan normal kecuali bahwa dia dipesan ayahnya untuk menjaga medal itu? Hmm… yah, namanya juga fiksi, Cit..cit. kalau nggak kayak gitu selesai dah ceritanya, nggak perlu sampai ada kisah ini. Hahaha. Ya udahlah, saya udah capek mengetik keluhan ini dan lupa juga sama hal-hal kecil lain dalam cerita ini. Keluhan kayak gini memang enaknya diomongin langsung, kekekeke. Tapi sebenarnya masih ada beberapa keluhan lagi lho, cuma udah nggak kuat nglanjutin, seperti si Fuyu itu yang kayak angin lalu.

Omong-omong, buku ini acceptable kok, cuma saya aja yang rempong mikir ceritanya. 
Bagaimana tanggapan teman-teman yang sudah membaca buku ini? 

1 komentar:

  1. Hai, Cit. Maaaapp baru sempet komen, baru bisa online pc, haha
    Dududuh... ulasanmu ketjeh sekali (y) Aku malah nggak kepikiran sampai segitunya. Mungkin karena aku terlarut sama manisnya eclair dan (bayangan) gantengnya Sergei? #eh Btw, aku setuju sama beberapa poinmu. Terutama yang bagian Fuyu. Kalau di anime atau gitu mungkin dia semacam episode filler(?) gitu kali ya? Hahaha. Terus yang masalah detektif-detektifan juga. Yaaa... mungkin karena mbak Prisca main genre yang digeluti bukan mystery/thriller gitu kali ya? Jadi kesannya kurang 'nendang'. Atau mungkin lack of details? Kan biasanya kalau di Detective Conan gitu waktu pengungkapan misteri biasanya dijelasin gimana prosesnya. Dan memang bikin suatu case itu susah susah gampang sih. Apalagi bisa dibilang ini debutnya si Mbak.
    Terlepas dari segala 'bolong-bolong' yang ada, I enjoyed reading it. Kalau kata review mas Moemoe RIzal mah "Nggak peduli ke sananya ada plot klise, logika yang missed, atau apalah, kalau saya sudah menikmati tulisannya, saya nikmati aja. Biarkan kekurangan menjadi penyempurna sebuah buku. Biarkan saya buta pada kesalahan-kesalahan yang prisca lakukan dalam buku ini." Hahahaha

    BalasHapus

jangan segan-segan berkomentar :)